Artikel
Mengenal Appendicitis: Jangan Sepelekan Nyeri Perut Kanan Bawah
Oleh : dr. KOERNIA KARTIKA UTAMA, Sp.B
Appendicitis atau apendisitis adalah peradangan pada usus buntu,
Usus buntu yaitu organ kecil berbentuk seperti kantong yang menempel pada bagian awal usus besar. Dalam bahasa sehari-hari, penyakit ini sering disebut “usus buntu”. Walaupun ukurannya kecil, bila mengalami peradangan dan tidak segera ditangani, usus buntu dapat pecah dan menyebabkan infeksi berat di dalam rongga perut.
Penyebab appendicitis sering berkaitan dengan sumbatan pada saluran usus buntu. Sumbatan ini dapat terjadi karena salah satunya adalah tinja yang mengeras.
Dapat juga disebabkan oleh pembengkakan jaringan limfoid, infeksi, atau faktor lain yang membuat bakteri berkembang cepat di dalam usus buntu. Akibatnya, usus buntu menjadi bengkak, meradang, berisi nanah, dan menimbulkan nyeri perut yang semakin berat.
Gejala paling khas adalah nyeri perut yang awalnya terasa di sekitar pusar atau ulu hati, lalu dalam beberapa jam berpindah ke perut kanan bawah. Nyeri biasanya makin berat saat berjalan, batuk, tertawa, naik motor, atau ketika perut ditekan. Pada sebagian orang, keluhan ini sering disangka masuk angin, maag, atau salah makan. Ini berbahaya, karena keterlambatan mengenali gejala dapat membuat kondisi makin berat.
Selain nyeri perut, appendicitis juga dapat disertai mual, muntah, nafsu makan menurun, demam ringan, perut terasa kembung, sulit buang angin, diare, atau sembelit. Namun, tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Pada anak-anak, remaja, lansia, ibu hamil, atau orang dengan penyakit kronis, keluhannya bisa tidak terlalu khas sehingga perlu lebih waspada.
Remaja perlu memahami bahwa nyeri perut bukan selalu hal ringan. Kebiasaan menunda makan, kurang minum, kurang serat, dan menahan buang air besar memang tidak otomatis menyebabkan usus buntu, tetapi dapat memperburuk kesehatan pencernaan. Karena itu, pola makan seimbang, cukup minum air putih, aktivitas fisik, dan tidak menahan BAB tetap penting untuk menjaga fungsi saluran cerna.
Bagi peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis), terutama yang memiliki diabetes, hipertensi, atau penyakit kronis lain, nyeri perut yang menetap harus lebih diperhatikan. Jangan menunda pemeriksaan hanya karena merasa “nanti juga sembuh”. Pada orang dengan kondisi kronis, infeksi dan peradangan dapat lebih berisiko menimbulkan komplikasi, apalagi bila datang ke fasilitas kesehatan dalam keadaan terlambat.
Tanda bahaya yang harus segera dibawa ke puskesmas, IGD, atau fasilitas kesehatan terdekat adalah nyeri perut kanan bawah yang semakin berat, demam, muntah terus-menerus, perut terasa keras atau sangat nyeri saat disentuh, lemas berat, tampak pucat, atau nyeri mendadak yang sempat membaik lalu memburuk lagi. Jangan mengandalkan pijat, kerokan, jamu, atau obat nyeri sembarangan karena tindakan tersebut dapat menunda diagnosis.
Untuk memastikan appendicitis, tenaga kesehatan akan menanyakan riwayat keluhan, melakukan pemeriksaan perut, dan bila diperlukan menyarankan pemeriksaan darah, urine, USG, atau pemeriksaan lanjutan sesuai kondisi pasien. Pemeriksaan ini penting karena nyeri perut kanan bawah juga bisa disebabkan oleh penyakit lain, seperti infeksi saluran kemih, gangguan usus, gangguan lambung, atau masalah organ reproduksi.
Pengobatan appendicitis bergantung pada tingkat keparahan. Sebagian pasien memerlukan antibiotik, tetapi pada banyak kasus tindakan operasi pengangkatan usus buntu tetap menjadi penanganan utama, terutama bila dicurigai ada risiko pecah. Semakin cepat pasien datang dan diperiksa, semakin besar peluang penanganan berjalan baik dan komplikasi dapat dicegah.\
Pesan pentingnya sederhana: jangan menyepelekan nyeri perut yang menetap dan makin berat, terutama bila berpindah ke kanan bawah. Appendicitis bukan penyakit yang harus ditakuti secara berlebihan, tetapi harus dikenali sejak dini. Datang lebih cepat ke fasilitas kesehatan jauh lebih aman daripada menunggu sampai usus buntu pecah.