Call Center
031-592-4000
Background Image

Artikel

PENGATURAN DIET PADA GASTROESOPHAGEAL REFLUX DESEASE (GERD)

Jumat, 18 September 2026 08:42 WIB     Health Info

Unjiati, SKM.,M.Kes., Dietisien

(Kepala Instalasi Gizi)

 

Pernahkan Anda pernah merasakan seperti panas terbakar di dada, mual, rasa asam di mulut, hingga sensasi mengganjal di tenggorokan? Bila iya, bisa jadi Anda sedang mengalami gejala GERD. Tetapi untuk memastikannya Anda perlu periksa ke dokter. Yuk, kita mengenal tentang GERD dan bagaimana pengaturan dietnya.

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah kondisi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan (esofagus) secara berulang. Hal ini disebabkan karena katup penutup di bagian bawah kerongkongan (Lower Esophageal Sphincter / LES) melemah atau rileks di waktu yang tidak tepat. Melemahnya katup ini membuat asam lambung dan isi perut mudah naik kembali (refluks) ke saluran kerongkongan. Kondisi ini sering kali menimbulkan rasa panas terbakar di dada (heartburn), mual, rasa asam di mulut, hingga sensasi mengganjal di tenggorokan.

Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya GERD, diantaranya kebiasaan langsung berbaring setelah makan, makan dalam porsi yang terlalu besar sekaligus,  sering melewatkan waktu makan, serta sering mengonsumsi makanan tinggi lemak, pedas, dan asam. Minum kopi yang pekat, bersoda, dan alkohol berlebihan juga memicu terjadinya GERD. Selain itu obesitas, kehamilan, obat-obatan tertentu,  dan stress , juga dapat menyebabkan GERD.

Meskipun obat-obatan dapat meringankan gejala secara cepat, pengaturan diet dan pola makan sehari-hari (dietary management) merupakan fondasi utama untuk mencegah kekambuhan jangka panjang. Tujuan pengaturan diet GERD adalah mencegah melemahnya katup kerongkongan bawah, mengurangi produksi asam lambung berlebih, dan mempercepat proses pengosongan lambung. Berikut ini adalah pengaturan diet yang disarankan:

  1. Makan porsi kecil tapi sering, yaitu membagi porsi makan menjadi 5–6 kali sehari dengan porsi kecil.
  2. Jangan langsung berbaring setelah makan, yaitu memberikan jeda minimal 2 hingga 3 jam setelah makan sebelum tidur atau berbaring.
  3. Mengunyah makanan hingga halus, untuk mempermudah kerja lambung sehingga proses pencernaan berlangsung lebih cepat.
  4. Membatasi asupan lemak, karena makanan tinggi lemak membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna, membuat lambung terisi lebih lama.

Untuk memudahkan penyusunan menu harian, berikut adalah panduan kelompok makanan yang aman dan yang perlu dibatasi atau dihindari:

  1. Aman dikonsumsi: nasi putih, kentang rebus/kukus, oatmeal, roti gandum, bihun (sumber karbohidrat); daging ayam tanpa kulit, ikan segar, putih telur, tahu dan tempe yang diolah dengan sedikit minyak (sumber protein); brokoli, wortel, labu siam, bayam, kentang, buncis (sayuran); pisang, melon, pepaya, apel non-asam, dan pir (buah); air putih hangat, teh herbal non-kafein, dan susu rendah lemak.
  2. Dibatasi atau dihindari: makanan tinggi lemak/gorengan, mi instan, olahan santan, pedas, dan kue pastry tinggi mentega (sumber karbohidrat); daging merah berlemak, daging olahan (sosis, kornet, nugget), jerohan, dan kulit ayam (sumber protein); kol, sawi hijau, kembang kol, daun singkong, daun pepaya(sayuran); buah-buahan asam seperti jeruk, lemon, jeruk nipis, nanas; kopi, teh pekat, minuman bersoda, minuman beralkohol, serta bumbu-bumbu yang pedas dan terlalu asam.

Pengaturan diet pada GERD bersifat sangat individual. Jika Anda menemukan makanan tertentu yang memicu gejala meskipun berada di daftar aman, catat dan konsultasikan dengan ahli gizi atau dokter spesialis untuk penyesuaian lebih lanjut.

Customer Service